Senin, 13 Februari 2012

Uraian Narasi Out Put


Judul : Pengaruh Kompetensi Auditor dan Budaya Terhadap Kualitas Jasa Audit.

Variabel independen


Kompetensi Auditor (X1)

Budaya Organisasi (X2)

Kualitas Jasa Audit (Y) Variabel Dependen

Model Pengujian Hipotesis, sebagai berikut:

Y = β0 + β1 X1 + β2 X2 + Є0

Y = 359 + 0,080 X1 + 0,610 X2

Parsial Uji (t) = (0,000) (0,426) (0,000)

Parsial = (0,000) (0,073) (0,639)

Simultan Uji F = (0,000*)


Adjt R Square = 0.403 atau 40,3%

Alpha = (0,05)


(*) = (Sig)

Є0 = 0,597 atau 59,7%


Dimana:

Y = Kualitas Jasa Audit

β0 = Konstanta

X1 = Kompetensi auditor


X2 = Budaya Organisasi

Є0 = error terms

Alpha = 0,05

· Pengaruh Kompetensi Auditor, terhadap Kualitas Jasa Audit sebesar 7,3%

· Pengaruh Budaya Organisasi, terhadap Kualitas Jasa Audit sebesar 63,9%

· Pengaruh Kompetensi Auditor dan Budaya Organisasi, terhadap Jasa Audit sebesar 40,3%

Uraian Makna:

1) Pengaruh Kompetensi Auditor, terhadap Kualitas Jasa Audit sebesar 7,3%

Kompetensi diukur dengan mengelompokan kompetensi menjadi tiga dimensi, kompetensi kognitif, kompetensi kecerdasan emosional dan kompetensi kecerdasan sosial. Kemampuan kognitif merupakan proses pengolahan informasi yang menjangkau kegiatan kognisi, intelegensi, belajar, pemecahan masalah dan pembentukan konsep. Auditor yang memiliki kompetensi kognitif sangat membantu Auditor dalam melakukan audit sehingga jasa audit yang dihasilkan lebih berkualitas. Kombinasi pengetahuan, kemampuan dan kualitas, pengalaman membuat proses audit akan berjalan lebih cepat dan terarah.

Kompetensi kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan untuk mengenali, memahami dan menggunakan informasi emosional mengenai diri sendiri yang menuntun atau menyebabkan keefektifan atau kinerja yang superior. Dengan kompetensi kecerdasan emosioal yang dimiliki auditor akan memicu kualitas jasa auditor yang akan dihasilkan Auditor dengan kompetensi kecerdasan emosional akan memudahkannya dalam mejalankan tugasnya. Auditor yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang rendah tentunya akan bayak sekali mengalami kesulitan, karena dalam audit diperlukan kesabaran sehingga kualitas audit yang dihasilkan tidak akan maksimal.

Kompetensi kecerdasan sosial merupakan kemampuan untuk megenali, memahami dan menggunakan dan menggunakan informasi emosional mengenai orang lain yang menuntut atau menyebabkan keefektifan atau kinerja yang superior. Dalam mengaudit, auditor juga dituntut dapat berkomunikasi dengan pihak manajemen maupun pemegang saham dan dapat membina hubungan baik dengan klien yang diauditnya. Kempuan bersosialisasi ini akan membantu auditor dalam memeriksa dan mempermudah mengemukakan temuan-temuannya sehingga dapat menyampaikan hasil auditnya secara keseluruhan. Hal ini tentu saja akan meningkatkan kualitas jasa audit sehingga perusahaan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan atau kekeliruan yang selama ini terjadi pada perusahaan tersebut.

2) Pengaruh Budaya Organisasi, terhadap Kualitas Jasa Audit sebesar 63,9%

Budaya organisasi diukur dengan menggunakan tujuh karakteristik utamanya dan yang merupakan hakikat budaya organisasi yaitu inovasi, keberanian risiko, perhatian pada hal-hal rinci, orientasi hasil, orientasi orang, orientasi tim, keagresifan, stabilitas. Budaya organisasi dalam sebuah perusahaan yang diaudit maupun pada tim audit itu sendiri akan mempegaruhi hasil dari audit tersebut. Budaya yang tidak mendukung pihak audit tentu saja akan meghambat proses audit yang nantiya akan sedikit sekali data atau bahan yang dapat diperoleh auditor, semakin sedikit data yang didapat auditor maka semakin sedikit pula temuan-temuan yang akan terungkap yang nantinya hasil audit tidak mencerminkan keadaan perusahaan secara keseluruhan.

3) Pengaruh Kompetensi Auditor dan Budaya Organisasi, terhadap Kualitas Jasa Audit 40,3%.

Pengaruh Budaya organisasi lebih besar pegaruhya terhadap kualitas jasa audit dibandingkan dengan kompetensi auditor terhadap kualitas jasa audit, karena sebagus apapun kompetensi yang dimiliki seorang auditor tidak dapat digunakan secara maksimal apabila tidak didukung oleh budaya organisasi yang mendukung. Misalnya, pada suatu perusahaan yang memiliki budaya organisasi yang berantakan dengan struktur tanggung jawab yang jelas akan menyulitkan auditor dalam menyampaikan temuan-temuannya. Jadi temuan-temuan berkualitas yang ditemukan auditor dengan segala kompetensi yang dimiliki oleh auditor tersebut tidak dapat berguna bagi perusahaan yang memiliki budaya organisasi yang buruk sehingga kualitas akhir dari kualitas jasa audit akan jadi buruk.

Pengaruh diluar kompetensi auditor dan budaya organisasi terhadap kualitas jasa audit sebesar 59,7%. Hal ini berarti masih ada variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi kualitas jasa audit selain dari Kompetensi Auditor dan budaya organisasi